Rabu, 16 November 2011

ARTI KEHIDUPAN



25 Oktober

 Aku memperhatikan lelaki yang ada di depanku.Lelaki itu menatap jendela dengan tatapan yang kosong. Tidak terlihat pantulan dari bola matanya, entah apa yang ia lihat, sepertinya ia hanya memandang langit dan sang surya. Lelaki itu walaupun pandangannya kosong, tetapi kulit putih dan wajah imutnya mampu membuatku kagum . Aku adalah Vina Astari, seorang wanita yang harus tinggal di rumah sakit karena penyakit leukimiaku yang semakin parah. Aku hidup sebatang kara, Orang tua dan adikku telah pergi meninggalkan aku, dan di rumah sakit ini aku dibiayai oleh seorang suster yang baik hati yang mau merawatku juga.
“Vina cepat berbaring, kau belum pulih betul kan? Di kamar ini sekarang kau tidak sendirian, kau akan ditemani lelaki ini.” Kata suster yang mengecek keadaanku.
“Suster, siapa lelaki ini?” tanyaku
“Dia Bayu. Namanya Bayu Arif  Budiawan. Dia menderita amnesia karena kecelakaan. Orang tuanya meninggal dan dia kehilangan ingatan.” Jawab suster.
Entah mengapa aku penasaran dengan Bayu. Tatapannya yang kosong seakan membuatku memiliki seribu pertanyaan padanya. Suster meninggalkan ruanganku dan aku pun hanya ditinggal dengan Bayu yang tepat berada di depanku. Dia masih menatap ke luar jendela.
“Hei kau. Bayu.” Aku pun mulai berbicara kepadanya.
Cukup lama untuk mendapatkan responnya, setelah beberapa menit kemudian akhirnya dia menoleh ke arahku.
“Kau…memanggilku?” jawabnya.Suaranya terdengar lemah seperti tak ada harapan untuk hidup.
“Ya. Aku memanggilmu. Aku bosan,jadi setidaknya kalau ada orang di depanku, aku akan mengajaknya berbicara…”
“Oh!”
Reaksi yang ia berikan sungguh membuatku penasaran dan tidak menduga, hanya ‘oh’ yang diucapkannya. Dia memang membuat diriku penasaran,namun menyebalkan juga. Setelah menjawabku, dia kembali menatap jendela dengan tatapan kosongnya, dan dia membuatku sebal.
“Hei kalau kau disapa atau diajak berbicara oleh seseorang, apalagi seorang wanita, berikanlah senyuman. Kau ini bodoh ya!” Aku menyentaknya, namun hebatnya wajahnya tetap datar.
“Siapa…namamu?” Tanya Bayu.
Apa-apaan sih dia, sudah kusentak tak ada reaksi, sekarang malah menanyakan namaku. Sungguh aneh.
“Vina Astari…”
“Hahahahaha…” Tanpa alasan yang jelas dia tertawa.Aku mulai bingung dengan reaksinya.
“Diam kau! Kau…”
“Salam kenal Vin…”
Kata-katanya yang seolah membuatku heran, didukung dengan senyum yang ia pancarkan membuatku tak bisa berkata lagi dan membuatku menunduk menyembunyikan pipiku yang merona.
“Salam kenal….Bayu….” Ucapku pelan sambil menunduk.
“Kenapa kau disini?” Tanyanya.
“Kau ingin tahu?”
“Ya. Kalau kau sudah bercerita, nanti aku juga akan bercerita.”
“Penyakit…”
“Eh maksudmu?” Tanya Bayu.
“Leukimia. Sudah lama aku ada di rumah sakit ini karena leukemia. Sebenarnya aku ingin hidup normal dan bebas seperti anak lain, tetapi jika aku pergi dan keluar dari sini, mungkin aku akan mati.”
 Sakit sekali rasanya menceritakan kekurangan diri sendiri, aku tahu sebenarnya hidupku sudah di ujung tanduk. Aku ingin menangis, tetapi aku tahu itu hanya akan seperti memberi garam di laut.
“Tapi kudengar kalau leukemia itu bisa sembuh dengan terapi, tenang saja pasti kau akan sembuh Vin…”
“Ya terima kasih.”
“Nah,mau mendengar alasan kenapa aku ada disini?” Dia lalu memulai ceritanya dengan senyum hampa.
“Jujur, aku bingung kenapa aku ada di sini. Saat aku sadar,semuanya kosong dan aku tidak ingat siapa diriku. Aku tidak ingat semuanya, sampai Dokter memberi tahu diriku bahwa orang tua dan kakakku sudah meninggal. Aku bingung harus bagaimana, kehidupan begitu suram bagi diriku.” Setelah berkata demikian, dia pun menitikkan air mata. Baru kali ini aku melihat seorang lelaki yang menangis.
“Maaf, aku sudah menanyakan hal yang tidak semestinya kutanyakan.” Kataku merasa bersalah.
“Ah tidak apa-apa. Kau tidak menyuruhku untuk bercerita, aku yang ingin mengatakannya. Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah membuatmu bercerita tentang penyakitmu.”
Suasana kemudian berubah menjadi hening. Kami berdua saling menunduk, kami sama-sama merasakan kesedihan. Aku yang tahu kalau hidupku tak akan lama lagi , Bayu juga tahu kalau dia sendirian di dunia ini dan dia sedang hilang ingatan. Kami sama-sama tak bersemangat untuk hidup di dunia yang penuh dengan rintangan hidup yang berat ini.
“Jadi kau akan tinggal dengan siapa setelah keluar dari rumah sakit ini?” Tanyaku yang berusaha untuk mencairkan suasana yang buruk tadi.
“Aku mempunyai saudara jauh,mungkin nanti aku akan tinggal dengannya, kebetulan dia juga sendirian…”
“Saudaramu laki-laki atau perempuan?”
“Hm,perempuan.” Katanya singkat.
“Bukankah tidak baik jika seorang laki-laki tinggal serumah dengan seorang perempuan, walaupun saudara..”
“Aku tidak menghiraukannya, kalau tidak tinggal dengannya, lalu aku harus tinggal dimana?”
“Kau benar Bayu…maafkan aku…”
“Tidak apa-apa. Hm lalu bagaimana dengan dirimu? Seperti apa keluargamu?” Tanyanya dengan alis yang sedikit ditekuk.
“Keluargaku…, ayahku adalah seorang yang narsis dan pemarah, sedang adikku sungguh bodoh, tetapi walaupun begitu aku tetap menyayangi mereka, ya walaupun mereka telah meninggalkanku. ”
Lalu kami tertawa bersama. Rasanya kami sudah mulai akrab walaupun agak sedikit kaku. Matahari pun perlahan tenggelam dan menandakan hari sudah semakin sore.
Sejak saat itu kami menjadi teman yang akrab. Bahkan kami sering kabur diam-diam dari rumah sakit dan menuju ke taman bunga untuk mencari udara segar. Kami sudah seperti kakak adik yang tidak bisa dipisahkan, sampai suatu hari aku merasakan perasaan yang berbeda. Malam ini kami menyelinap ke luar rumah sakit untuk kesekian kalinya. Kami nekat malam-malam begini pergi,hanya untuk ke taman bunga yang sudah tak terurus,tetapi bunga-bunga yang ada di situ membuat kami tertarik.
“Lihat, bunga itu berwarna ungu. Bagus sekali ya…” Kataku
Bayu tersenyum ke arahku, kami pun duduk di dekat bunga ungu itu. Kami melihat malam yang penuh bintang, serta dewi malam yang memancarkan cahayanya kepada bumi.
“Vina…aku ingin berkata sesuatu padamu.”
“Hm…?” Aku mulai memperhatikan wajahnya.
“Sebenarnya aku ingin mengatakannya sejak tadi siang, tatapi di rumah sakit terlalu banyak orang, aku hanya ingin bicara empat mata denganmu.” Katanya
“A…ada apa?” Aku mulai sedikit berdebar dan perasaanku mulai tidak enak.
“Sebenarnya…aku akan keluar dari rumah sakit besok Vin…”
Aku terkejut sekali. Aku tertunduk sesaat karena perasaanku berkecamuk. Aku senang karena dia bisa keluar dari rumah sakit, tetapi aku juga sedih kalau dia tidak ada di sampingku. Aku mencoba menahan tangisanku, aku memberikan senyuman palsu untuknya.
“Baguslah. Akhirnya kau bisa keluar dari sini Bayu…” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Rasanya ingin sekali aku menangis, tetapi aku sadar dengan menangis pun tak akan membaikkan suasana.
“Terima kasih Vina, selama sebulan bersamamu aku sungguh senang, karena aku tak kesepian lagi.” Katanya dengan senyuman di wajahnya.
Aku tak sanggup membendung tangisanku, ku keluarkan semua tangisanku di hadapannya. Dia mencoba menenangkanku. Tetapi tangisanku justru semakin keras.
“Aku tak mau jika kau meninggalkan aku sendirian Bayu…” Kataku sambil menangis.
“Sebenarnya aku juga sedih karena meninggalkanmu, tetapi aku harus pulang Vin.. Aku akan menunggumu sampai kau keluar dari rumah sakit, dan kita pasti bisa bersama lagi. Aku pasti juga akan sering menjengukmu. Hm, apakah di tanggal 25 Oktober nanti kau bisa menyelinap ke sini? Aku ingin bertemu denganmu di tanggal itu.” Kata-katanya begitu tenang.
“Mungkin…aku bisa…Ayo kita bertemu di hari itu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Jawabku.
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu, maka dari itu aku pasti akan datang. Kau juga harus datang… Apa kau berjanji?” Kata Bayu sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Lalu kami pun melakukan janji jari kelingking dan kamudian kami juga tertawa bersama. Karena telah larut malam, kami memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
“Ayo kita pulang, nanti suster bisa marah kalau kita ketahuan.” Kataku agak panik.
“Iya Vin, ayo pulang.”
Kami pun kembali ke rumah sakit. Langkah kaki kami sangat lambat. Kami tidak ingin waktu cepat berlalu. Namun seperti siput pun kami berjalan,waktu tatap mengalir. Akhirnya kami sampai di rumah sakit dan kembali tidur. Menunggu hari esok dimana Bayu akan meninggalkanku.
Esoknya Bayu bangun pagi sekali dan dia membangunkan aku.
“Pagi Vina…”
Saat aku terbangun, aku melihat Bayu dengan membawa koper. Dia betul-betul akan pulang.
“Pagi juga Bayu..”
“Aku akan pulang sekarang, mungkin agak terburu-buru, namun aku harus membantu saudaraku.” Katanya
“Tanggal 25 Oktober kita akan bertamu lagi kan?”
“Ya, Karena kita sudah berjanji.” Katanya dengan senyuman terukir di wajahnya.
Akhirnya Bayu pun meninggalkan ruangan ini. Dia menutup pintu kamar Bougenville ini. Bayangannya memudar, Langkah kakinya terdengar semakin jauh.
 Tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalaku. Kepalaku seperti akan meledak. Seperti ada yang memaksa untuk mengeluarkan seluruh isi kepalaku ini. Sakit sekali. Aku menahan rasa sakit ini. Aku menahannya terus sampai akhirnya aku terbatuk. Aku bingung,mungkinkah aku masuk angin? Lalu terdengar suara menetes dari hidung dan mulutku. Warnanya merah. Aku bertanya dalam hati mungkinkah Tuhan bisa membiarkan aku untuk menepati janjiku pada Bayu?
“Uhuk…uhuk…” Darah menetes lagi dari telapak tangan yang aku gunakan untuk menutupi mulutku.

Tiba-tiba aku tidak tahu apa yang terjadi, sepertinya kesadaranku hilang dan aku pun tergeletak di lantai.
“Vina…! Dokter keadaan Vina Dokter…” samara-samar aku mendengar suara suster.
“Bawa dia ke ruang ICU cepat! Leukimianya sudah semakin parah.” Kata Dokter.
Tanggal 19 Oktober aku terbaring tak sadarkan diri di ruang ICU. Dokter mengatakan penyakitku sudah sampai batasnya, namun Dokter berkata akan semampunya untuk menyelamatkan nyawaku.
Tanggal 20 Oktober aku mulai tersadar. Pikiranku sangat kacau. Rasa sakit di kepalaku terkadang muncul dan membuatku kesulitan berpikir. Aku tidak bisa mengingat kejadian kemarin. Apa ada sesuatu yang aku lupakan?
Tanggal 21 Oktober keadaanku tidak ada perubahan. Keadaanku masih sama, aku tidak tambah membaik. Rasa sakit kepalaku semakin menjadi. Batuk darahku semakin parah dan aku seperti melupakan sesuatu . Aku tidak begitu menghiraukannya, yang aku pikirkan sekarang adalah apakah mungkin aku akan pergi meninggalkan dunia ini?
Tanggal 22 Oktober aku seperti mengingat sesuatu, aku melihat kalender, aku merasa kalau aku ingin kalender itu segerea menunjukkan tanggal 25 Oktober. Ada apa dengan diriku?
Tanggal 23 Oktober aku benar-benar tidak sadarkan diri, aku bermimpi dalam ketidak sadaranku ini. Di mimpiku ada seorang lelaki yang tersenyum, dia seperti menunggu aku di sebuah taman yang dipenuhi bunga yang berwarna ungu. Sungguh indah. Lalu dia mengulurkan tangannya kepadaku.
 Aku mencoba menggapai tangannya, tetapi tak bisa. Kegelapan memisahkan aku dan dia, bayangannya hilang begitu saja, aku mencoba mengingat wajahnya, tetapi kepalaku menolak untuk berpikir.
Tanggal 24 Oktober aku masih belum tersadar dan aku bermimpi lagi. Aku bermimpi ada seseorang dengan wajah yang kecewa. Lalu seseorang itu pergi dari hadapanku. Lalu aku seperti melihat kembaranku di depanku. Kemudian kembaran diriku mengatakan jika aku tidak menepati janjiku dan aku harus membayarnya. Setelah itu aku tersadar dari mimpi burukku. Dan saat kulihat kalender sudah menunjukkan tanggal 24. Aku berusaha mengingat sesuatu. Ya, janji, di taman bunga, dan…dan…Bayu. Aku baru ingat janjiku dengan Bayu Arif Budiawan.
“Suster, kumohon biarkan aku pergi dari sini sebentar saja besok, aku mempunyai janji suster…” Aku mencoba memohon kepada suster.
“Tidak. Apa kau ingin mati! “ Suster membentakku.
“Kumohon suster…”
Suster terdiam untuk sesaat, kemudian dia berkata kalau besok dia akan mengantarku ke taman bunga, dan sekarang dia menyuruhku untuk tidur dulu. Malam itu aku sangat senang, tak sabar menunggu hari esok cepat datang. Mataku sulit terpejam, namun akhirnya mataku terpejam juga.
Tanggal 25 Oktober aku merasa kalau tubuhku menjadi ringan dan rasa sakitku sudah pergi entah kemana. Aku merasa sudah bebas, namun sekelilingku menjadi kosong. Aku mencoba mengenali tempat ini, aku mencari jalan pulang, aku ingin segera menepati janjiku pada Bayu, tetapi kenapa aku tak menemukan jalan ke taman bunga? Ada apa ini?
“Vina, cepat bangun. Kau hebat sekali bisa tidur sampai jam 4 sore, Vina bang…” Suster terdiam tak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Tidak…ini tidak mungkin.” Suster berteriak.
Aku bisa melihat suster. Lalu Aku menemukan seseorang yang wajahnya mirip sekali denganku. Aku melihat Dokter berusaha mengembalikan detak jantung orang itu, namun sudah berkali-kali dicoba, detak jantungnya tak kembali juga. Dokter menutup wajahnya yang pucat pasi dan terlihat tenang dengan sebuah kain berwarna putih bersih. Aku tak bisa mempercayainya, aku berdiri disini, lalu siapa gadis tadi? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan aku?
 Aku mencoba mencerna semua ini, lalu aku sadar bahwa aku telah meninggalkan dunia ini dan orang tadi ternyata adalah tubuhku yang sudah tak bernyawa lagi. Aku ingin menepati janjiku pada Bayu, namun Tuhan ternyata tidak mengijinkan aku untuk bertemu dengan Bayu. Maafkan aku Bayu, aku tidak tahu seperti apa reaksimu jika kau tahu aku tidak menepati janjiku. Seandainya hari ini kita bisa bertemu, aku akan mengatakan kalau aku sangat menyayangimu, aku ingin selalu tertawa bersamamu, aku ingin menemani dirimu yang kesepian, tetapi apalah dayaku, aku hanya bisa berkata maaf karena aku tidak menepati janjiku padamu Bayu. Ya, tanggal 25 Oktober dimana hari ini adalah hari janjiku bertemu dengan Bayu, dan juga hari dimana aku telah meninggalkanmu…Bayu....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar